Pendidikan Indonesia kurang kreatif, kenapa ya?

Sudah bukan rahasia lagi citra kurang baik sistem pendidikan di Indonesia sehingga diperlukan banyak transformasi dari tiap stakeholder, program dan regulasi nya, seperti penghapusan Ujian Nasional, administrasi pendanaan sekolah, asesmen karakter dan lingkungan, otonomi tes dan penilaian pembelajaran sekolah.

Menurut edweek.org faktor-faktor lain yang bisa digunakan dalam menilai kualitas sebuah sistem pendidikan melebihi reputasi dan skor hasil tes adalah:
1. penilaian individu murid
2. penilaian dan lingkungan sekolah
3. kesiapan murid lanjut berkuliah
4. keragaman populasi murid

Penilain yang bisa di gunakan pada poin pertama & kedua adalah dengan mengukur perkembangan skor hasil tes kognitif murid melalui tool assesmen PISA, secara nasional rata-rata hasil studi PISA 2018 yang dirilis oleh OECD menunjukkan bahwa:
1. kemampuan membaca: 371, dengan rata-rata skor Global OECD 487
2. matematika: 379, dengan skor rata-rata Global OECD 487
3. sains: 389, dengan skor rata-rata Global OECD 489

Jika dibandingkan dengan pencapaian skor PISA 2015 maka terjadi penurunan di semua bidang dengan:
1. kemampuan membaca: 397
2. matematika: 386
3. sains: 403

Pada poin ketiga penilaian menggunakan tingkat drop out dari tingkat SMA/SMK menuju perkuliahan serta kematangan perencanaan murid untuk masuk kuliah, melalui situs data kemendikbud terjadi penurunan signifikan jumlah murid putus sekolah pada tahun ajaran 2018/2019 sebanyak 52,142 dan 2019/2020 menjadi 26,864. Namun ironis nya berdasarkan penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017, diketahui sebanyak 87 persen mahasiswa Indonesia mengakui bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Dan 71,7 persen pekerja, memiliki profesi yang tidak sesuai dengan pendidikannya.

Untuk poin keempat pendekatan yang bisa digunakan adalah pengukuran terhadap kasus bullying yg terjadi pada murid sekolah dimana KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencatat tahun 2018 korban perundungan sebanyak 107 anak dan pelaku 127 anak, laporan ini tidak menutup kemungkinan bahwa masih banyak kasus perundungan yang tidak terlaporkan.

Makanya tidak heran sih kalau ditanya soal pendidikan, maka keluar lah kesan-kesan ketidak puasan dan tidak berprogress.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *