Malala Yousafzai dan pendidikan bagi anak perempuan.

He Named Me Malala documenter by Davis Guggenheim
22 Oktober 2015, dokumenter kisah perjuangan Malala rilis, namun teror kelompok ekstremis Taliban di Pakistan masih merajalela hingga detik tulisan ini diunggah, dampaknya penindasan dimana”, sekolah dihancurkan, pemimpin dibungkam dan orang” sibuk menyelamatkan diri, namun seorang gadis remaja tetap berdiri diatas ancaman teror, menyuarakan dengan lantang betapa pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.

2014, Malala mendapat penghargaan Nobel Perdamaian untuk usaha dan pencapaiannya dalam memperjuangkan hak pendidikan anak Pakistan melalui aktivisme. Saat itu disamping Malala ada Kailash Satyarthi, Aktivis anak yang juga mendapat penghargaan Nobel Perdamaian untuk perjuangannya melawan sistem ekploitasi kerja bagi anak” di India.

Mengutip Malala, “I tell my story not because it is unique, but because it is the story of many girls.”

Melanjutkan perjuangannya, Malala mendirikan Malala Fund yang pendanaannya berfokus pada anak” perempuan di belahan bumi lainnya yang kesulitan mendapat akses pendidikan karena terdampak krisis Covid-19 serta peningkatan kualitas pengajar demi mengejar ketertinggalan selama ini.

Berkaca dari isu pendidikan anak di Global, Tempo.co memaparkan total jumlah anak putus sekolah di 34 provinsi di Indonesia periode 2018/2019 masih berada di kisaran 4,5 juta anak. Menurut studi yang dilakukan Yayasan Sayangi Tunas Cilik (STC), dua penyebab terbesar adalah kemiskinan dan pernikahan dini. (23/07/2019)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *